JOMBANG, MEDIA NUSANTARA.Com-Tradisi “megengan” atau yang disebut kirim doa menjelang datangnya bulan Suci Ramadan bagi sebagian masyarakat muslim di daerah di Jawa Timur (Jatim) khususnya dari tahun ke tahun hingga kini masih terus dipertahankan.
Puncak megengan ini biasanya dilakukan pasca bulan Sya’ban setelah sebelumnya melewati bulan Rajab. Karena di antara dua bulan itu memang sangat ditekankan kepada kaum muslim banyak melakukan ibadah puasa sunah maupun mengerjakan amalan-amalan sunah lainnya yang banyak mengandung pahala.
Misalnya tradisi selamatan yang digelar di masjid-masjid dan langgar (musalah, red) dan ziarah ke makam menjadi pemandangan tersendiri bagi masyarakat muslim sebagai penganut kultur Jawa.
“Megengan ini sebenarnya sebuah istilah bahasa dari orang-orang jawa. Megengan itu diartikan kirim doa selamat bagi para leluhur, orang tua yang sudah meninggal, mendoakan para wali, guru-guru, sholawat nabi maupun hajat yang diinginkan. Doa ini ditandai dengan nasi tumpeng sebagai simbolis,” tutur warga kepada media ini yang minta namanya tidak ditulis yang ikut mengamini di acara doa bersama yang dihadiri sejumlah jamaah masjid, Kamis (27/2/2025).
Kirim doa selamat ini salah satunya juga digelar di Masjid Al Ikhlas Perumda, Desa Candimulyo yang dipimpin Ustad Muslim Al Karim usai salat Isya berjamaah langsung menggelar Istighotsah, baca surat Yasin dan Tahlil kemudian ditutup dengan doa.
Meski begitu, seiring dengan perkembangan waktu dan kemajuan teknologi informasi, semula nasi tumpeng banyak dibawa warga datang ke masjid-masjid dan musalah, kini pelan-pelan mulai bergeser cukup dari rumah-rumah saja. “Gak seperti dulu, warga ramai-ramai datang ke masjid dan musalah bawa tumpeng lalu berdoa. Sekarang ini sudah berubah, ada sebagian warga bikin sendiri nasi kotak lalu dibagikan ke tetangga dekat,” tutur warga lainnya.(gus)